Mengenal Pasif Splitter Fiber

Dalam jaringan akses serat optik (khususnya teknologi GPON/EPON), passive splitter atau pembagi daya optik pasif berfungsi untuk membagi satu sinyal input (feeder) ke beberapa jalur output (distribusi) tanpa memerlukan daya listrik.
Berdasarkan pembagian daya pada port outputnya, passive splitter dibagi menjadi dua jenis utama: Rasio Simetris dan Rasio Asimetris.
Perbandingan Cepat
KarakteristikSplitter SimetrisSplitter Asimetris
Pembagian DayaSama rata di setiap port outputBerbeda/tidak sama rata antar port
Topologi JaringanStar (Bintang) / TerpusatBus (Cascading) / Berderet / Tapping
PenggunaanPerumahan padat, gedung bertingkatJalur memanjang, pedesaan, pinggir jalan
Redaman (Loss)Seragam di seluruh portBervariasi tergantung persentase port
 1. Passive Splitter Rasio Simetris (Symmetrical Splitter)
Splitter ini membagi daya optik dari input sama rata (1:1) ke seluruh port output yang tersedia.
  • Cara Kerja: Jika sebuah sinyal masuk ke splitter simetris dengan 2 output (1:2), maka masing-masing port output akan mendapatkan 50% daya optik. Jika menggunakan splitter 1:8, maka masing-masing port mendapatkan 12.5% daya optik.
  • Rasio yang Umum: 1:2, 1:4, 1:8, 1:16, 1:32, dan 1:64.
  • Kelebihan:
    • Desain jaringan lebih mudah dihitung karena nilai redaman (loss) di setiap port sama.
    • Manajemen kabel lebih rapi karena biasanya terpusat di satu kotak ODP (Optical Distribution Point).
  • Kekurangan: Boros kabel jika rumah pelanggan letaknya saling berjauhan atau memanjang.
 2. Passive Splitter Rasio Asimetris (Asymmetrical / Unbalanced Splitter)
Splitter ini membagi daya optik dengan porsi yang tidak sama (tidak seimbang) antar port outputnya. Biasanya splitter ini hanya memiliki 2 port output dengan fungsi yang berbeda:
  1. Port Tap (Drop): Memiliki persentase daya lebih kecil untuk dialirkan ke pelanggan terdekat.
  2. Port Pass-Through (Express): Memiliki persentase daya lebih besar untuk meneruskan sinyal ke ODP/splitter berikutnya.

  • Cara Kerja: Menggunakan sistem persentase, misalnya rasio 5/95. Artinya, 5% daya dikeluarkan melalui port Tap untuk melayani pelanggan di titik tersebut, sedangkan 95% daya diteruskan melalui port Pass-Through menuju ke splitter berikutnya yang berada di lokasi lebih jauh.
  • Rasio yang Umum: 5/95, 10/90, 15/85, 20/80, hingga 30/70.
  • Kelebihan:
    • Sangat hemat kabel feeder karena menggunakan topologi berderet (bus).
    • Cocok untuk area dengan densitas pelanggan rendah atau jalur memanjang (seperti jalan raya atau pedesaan).
  • Kekurangan: Perhitungan redaman (link budget) jauh lebih rumit karena setiap titik ODP akan memiliki tingkat redaman yang berbeda-beda.
Berikut adalah visualisasi diagram untuk memahami perbedaan cara kerja dan distribusi daya antara Passive Splitter Simetris dan Asimetris, serta wujud asli perangkatnya di lapangan.
1. Diagram Konsep Distribusi Daya (Simetris vs Asimetris)

2. Bentuk Fisik Perangkat di Lapangan
Secara fisik, bentuk modul kaca di dalam casing atau kotak pembungkusnya hampir sama, tetapi Anda bisa membedakannya dengan mudah dari jumlah kabel output dan label stiker keterangan rasio yang tertera pada badan perangkat.
  • Bentuk Fisik Modul Splitter Simetris (Contoh tipe 1:4):
    Memiliki 1 kabel input (biasanya berwarna kuning atau hitam) dan langsung bercabang menjadi banyak kabel output (4, 8, 16, atau 32 kabel) dengan warna yang seragam. Setiap port ini memiliki redaman yang sama persis dan siap dicolokkan ke dropcore pelanggan.
  • Bentuk Fisik Modul Splitter Asimetris (Contoh tipe 1:2):
    Hanya memiliki 1 kabel input dan 2 kabel output saja. Kedua kabel output tersebut biasanya diberi label atau warna pembungkus yang berbeda (misalnya: warna Merah untuk port Tap/Drop pelanggan dengan redaman besar, dan warna Biru/Putih untuk port Pass-Through/Express untuk menyambung ke ODP berikutnya).
3. Implementasi pada Jaringan FTTH (Fiber to the Home)
Untuk melihat bagaimana splitter simetris diaplikasikan dalam kesatuan jaringan dari pusat (OLT) hingga ke rumah pelanggan, Anda bisa melihat skema arsitektur distribusi kabel optik berikut:

Penjelasan Alur Jaringan FTTH pada Gambar
Secara umum, arsitektur jaringan berbasis Passive Optical Network (PON) menggunakan pembagian bertingkat (cascading) dari perangkat aktif di pusat hingga ke sisi user:
  1. Central Office (Pusat): Di lokasi ini terdapat perangkat utama bernama OLT (Optical Line Terminal). Sinyal internet dari core network pertama kali dipancarkan dari sini menggunakan kabel optik utama (kabel Feeder).
  2. ODC (Optical Distribution Cabinet): Kabel Feeder dari OLT masuk ke dalam sebuah ruang atau kabinet distribusi besar di lapangan bernama ODC. Di dalam ODC ini biasanya dipasang Splitter Tahap Pertama (Level 1), misalnya dengan rasio simetris 1:4 atau 1:8.
  3. ODP (Optical Distribution Point): Output dari ODC kemudian disebarkan ke kotak-kotak ODP yang sering Anda lihat menggantung di tiang-tiang jalan atau perumahan menggunakan kabel Distribusi. Di dalam kotak ODP inilah ditempatkan Splitter Tahap Kedua (Level 2):
    • Jika menggunakan Splitter Simetris, kabel distribusi langsung dipecah rata (misal 1:8) untuk melayani rumah-rumah di radius ODP tersebut.
    • Jika menggunakan Splitter Asimetris, satu kabel express akan ditarik melompati tiang-tiang secara berderet (bus), di mana setiap ODP hanya melakukan tapping (mengambil porsi daya kecil untuk warga sekitar) dan meneruskan sisa daya besar ke ODP berikutnya.
  4. Customer Premises (Rumah Pelanggan): Dari port lepasan di ODP, teknisi menarik kabel berukuran kecil bernama Drop Cable menuju ke dalam rumah pelanggan. Kabel ini langsung dihubungkan ke perangkat ONT (Optical Network Terminal) / ONU atau yang biasa kita kenal sebagai modem WiFi untuk mengubah sinyal cahaya menjadi data internet.

Type above and press Enter to search.